logo

Berita

Mengapa Tugas Wakasek Kurikulum itu Berat?

Mengapa Tugas Wakasek Kurikulum itu Berat?

SALUT Majalengka

Senin, 11 Agustus 2025

Informasi

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum (Wakasek Kurikulum) di jenjang SMA/SMK memiliki peran yang sangat penting dalam pengelolaan pembelajaran dan implementasi kurikulum di sekolah. Peran pentingnya yaitu memimpin secara  teknis bidang akademik dan kurikulum di sekolah, melakukan perencanaan dan pengembang kurikulum, sesuai dengan kebijakan pemerintah dan visi-misi sekolah, melakukan koordinasi pelaksanaan pembelajaran, penilaian, serta kegiatan peningkatan mutu pembelajaran dan menjadi penghubung  antara kepala sekolah, guru, dan lembaga eksternal terkait akademik.

 Tugas Pokok Wakasek Kurikulum yaitu melakukan perencanaan kurikulum dengan menyusun dan mengembangkan program kurikulum sekolah, menyusun kalender pendidikan dan program tahunan akademik, menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran,  dan menentukan strategi pelaksanaan pembelajaran berbasis kurikulum nasional. Wakasek kurikulum melakukan monitoring pelaksanaan pembelajaran dengan cara mengawasi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran di kelas, menjamin keterlaksanaan jam pelajaran sesuai jadwal, mengatur sistem penilaian hasil belajar (formatif, sumatif, PAT, PAS, dan lainnya), membina guru dalam hal pengembangan perangkat ajar, seperti modul ajar dan asesmen.

Wakasek kurikulum juga melakukan penilaian dan evaluasi dengan mengelola  data nilai siswa dan sistem penilaian akademik, menyusun laporan hasil belajar siswa (rapor, rapor digital, dsb), menyusun dan mengatur pelaksanaan ujian sekolah serta asesmen lainnya.

Selanjutnya wakasek kurikulum melakukan pengembangan profesionalisme guru dengan melakukan koordinasi pelatihan, workshop, MGMP internal sekolah, melakukan pembinaan guru dalam peningkatan mutu pembelajaran dan literasi digital. Wakasek kurikulum juga melakukan koordinasi dan administrasi dengan berkoordinasi dengan wali kelas, guru BK, dan pihak lain untuk pemantauan akademik siswa, menyusun laporan pelaksanaan program kurikulum kepada kepala sekolah dan mengelola administrasi kurikulum dan dokumentasi pembelajaran.

Lalu mengapa tugas wakasek kurikulum dianggap berat. Keberadaan wakasek kurikulum di sekolah lebih tepat disebut sebagai “ibu” di sekolah. Ia lah yang bertugas membagikan jatah tugas tugas para guru untuk dilaksanakan dengan prinsip adil dan bijaksana. Tanpa asas adil dan bijaksana sangat sulit menyusun kurikulum di sekolah dengan baik. Hal ini menyangkut nasib dan karir guru ke depannya. Jika semua kepentingan dan haknya tidak terakomodir maka akan berpengaruh pada pencapaian kinerja para guru. Semua guru tidak mau jam mengajarnya kurang dari ketentuan minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Wakasek kurikulum harus memiliki kadar kedewasaan di atas para guru. Minimal Ia harus dituakan di sekolah. Lebih bagus lagi harus disegani. Hal itu mutlak dibentuk dari kepribadiannya sejauhmana Ia bisa dipandang dewasa dan bisa disegani oleh para guru. Tentu aspek keteladanan yang harus dikedepankan. Itu tidak bisa dibentuk sehari dua hari. Harus melalui perjalanan panjang. Di situlah beratnya.

Wakasek kurikulum juga harus lebih cerdas dari para guru lainnya. Apalagi manajemen kurikulum sekarang itu berbasis IT termasuk manajemen pelaporannya. Data data kurikulum di setiap sekolah sekarang ini bisa diakses langsung Kementrian Pendidikan dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat termasuk oleh kantor cabang dinas Pendidikan. Data kurikulum harus benar-benar valid. Dari sini kita tahu bahwa wakasek kurikulum lebih banyak berkutat dengan perangkat teknologi. Jadi harus punya kompetensi lebih dalam urusan perangkat teknologi terutama software penunjang manajemen Pendidikan.

Beratnya wakasek kurikulum juga dapat dilihat dari aspek emosionalitas. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Yosep Sumarna, wakasek kurikulum di SMAN 1 Sukahaji. Menurutnya memang benar menjadi wakasek kurikulum itu tidak mudah. Apalagi ketika mengatur jam mengajar. Semua guru harus terakomodir jam mengajarnya sesuai dengan jumlah jam minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Faktor emosionalitas sangat terasa di titik ini dan dirasakan berat oleh wakasek kurikulum. Yosep tidak menampik ada efek dari adanya ketidakadilan dalam menentukan jam mengajar. Menurut Yosep adil dan bijak itu beda. Dalam urusan kurikulum harus dilihat faktor faktor di masing masing guru. Ada guru yang ingin jumlah jam mengajarnya di atas jumlah jam minimal. Ada guru yang inginnya sesuai ketentuan minimal tapi dibutuhkan untuk lebih dan masih banyak aspek lainnya yang membuat pikiran wakasek kurikulum menjadi berat. Namun sejatinya, para guru lebih menghormati dan menghargai wakasek kurikulum karena menyangkut nasib guru juga dalam urusan jam mengajar. Nanti kalau tidak diberi jam mengajar bisa repot. Terpaksa harus minta pindah ke sekolah lain.